• Feed RSS
0
Ya, lingkungan baru. Itulah yang saya rasakan di SMA tempat saya menuntut ilmu. Bertemu dengan orang-orang yang belum kita kenal. Ada yang dari luar kota, luar provinsi , bahkan luar pulau Jawa. Bertemu dengan teman-teman yang beragam dan unik-unik. Itulah senangnya memiliki yang berbeda daripada yang lain. Dan bertemu dengan guru-guru yang berbeda pula.

Tapi saya tetap melakukan proteksi diri dari lingkungan sekolah yang kurang baik. Sebagus dan segermelap sebuah sekolah, pasti saja ada lingkungan yang kurang baik. Meskipun lingkungan tersebut ditimbulkan dari kalangan minoritas. Boleh melakukan proteksi diri, tetapi jangan terlalu berlebihan. Bisa saja itu mengakibatkan kita untuk bersikap over protection. Karena dari situlah sikap "meremehkan" orang lain itu muncul.

Pergaulan kita itu boleh luas, hanya saja jangan sampai melampaui ketentuan-ketentuan yang ada. Hal ini bisa menimalisir dari akibat-akibat yang tidak diharapkan. Seperti free sex, human trafficking, dan lain sebagainya. Teman-teman kita pasti memiliki aktivitas yang berbeda-beda. Mulai dari hobi, ekskul, bahkan hanya untuk bersenang-senang. Tertarik mengikutinya? Mungkin. Walaupun demikian kita harus menyaring kegiatan mana saja yang bisa kita jadikan sebagai kegiatan. Pertimbangkan apakah kegiatan itu bisa bermanfaat bagi diri kita atau mungkin bagi masyarakat sekitar.